Politik Yang Terkoyak
Di bawah langit kelabu negeri ini, Politik bermain dalam bayang-bayang, Janji-janji berhamburan, Menggantung di udara tanpa arah.
Rakyat menunggu dengan hati pilu, Mimpi-mimpi mereka terbang tak tentu, Di jalan-jalan penuh debu dan asa, Tangis menggema di sela-sela doa.
Korupsi merajalela bagai penyakit, Menggerogoti harapan, menghancurkan mimpi, Kursi kekuasaan dipenuhi ambisi, Hati nurani tersisih, tenggelam dalam sunyi.
Di balik dinding istana megah, Ada tangis yang tak terdengar, Suara rakyat yang terabaikan, Tenggelam dalam kebisingan kekuasaan.
Pemilu yang datang silih berganti, Menoreh luka lama yang tak kunjung sembuh, Uang dan kuasa menjadi bahasa, Sedangkan keadilan hanya bayang semu.
Di wajah-wajah lelah para petani, Di mata buruh yang terus menanti, Ada kesedihan yang sulit terucap, Ada harapan yang kian meredup.
Politik, kapan kau kembali suci? Mengapa janji jadi debu di angin? Rakyatmu menangis, memohon belas kasih, Agar hidup mereka tak lagi jadi permainan.
Kita rindu pemimpin berhati nurani, Yang berjuang bukan demi diri sendiri, Yang melihat rakyat dengan cinta sejati, Menghapus duka, membawa harmoni.
Di tengah gelap, kita masih berharap, Suatu saat politik kembali manusiawi, Mengusir mendung di langit negeri, Membawa terang, membawa damai.
Untuk pemimpin yang tulus, hati yang suci, Semoga esok tak lagi kelabu, Dan politik menjadi sinar yang menuntun jalan.




Comments
Post a Comment