Dari Kritis Jadi Apatis : Perjalanan Politik Anak Muda

 

Di masa lalu, mahasiswa memiliki semangat yang membara dalam dunia politik. Mereka sering kali berada di garis depan perubahan, memperjuangkan berbagai isu penting, dari harga BBM hingga reformasi politik. Kehadiran mereka bagaikan pahlawan, berjuang demi masa depan yang lebih baik. Namun, seiring berjalannya waktu, ketika mahasiswa mencoba mengkritik kebijakan atau menyuarakan ketidakadilan, sering kali mereka dihadapkan dengan komentar seperti, “Belajar yang rajin saja, jangan ikut-ikutan politik.”

Tentu, belajar itu penting. Namun, belajar bukan hanya tentang mengejar nilai bagus. Pendidikan sejati mencakup memahami lingkungan, kebijakan pemerintah, dan bagaimana semua itu memengaruhi kehidupan sehari-hari. Mahasiswa yang mendalami hukum, politik, atau ilmu sosial seharusnya lebih terlatih dalam menganalisis dan mengkritisi kebijakan yang tidak sesuai. Tetapi kenyataannya, ketika mereka mencoba menerapkan pengetahuan ini untuk mengkritik kebijakan yang tidak adil, respons yang mereka terima justru sering kali negatif. Mereka dianggap membuat onar atau tidak fokus pada studi.

Aneh rasanya jika mahasiswa hukum atau ilmu sosial-politik disuruh untuk belajar rajin tanpa menyuarakan ketidaknyamanan mereka terhadap kebijakan yang menyimpang. Jika mereka hanya belajar teori tanpa bisa mengkritisi kebijakan yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip yang mereka pelajari, apa gunanya pendidikan mereka? Jika mereka dihadapkan pada ketidakadilan tetapi diminta diam saja, itu sama saja dengan mengabaikan esensi dari pendidikan mereka.

Di sisi lain, media sosial memang mempermudah mahasiswa untuk mengikuti perkembangan politik. Namun, media sosial juga membawa tantangan tersendiri. Saat mahasiswa menyuarakan pendapat, tanggapan yang muncul sering kali tidak menyenangkan. Diskusi yang diharapkan bisa membangun berubah menjadi debat yang tidak produktif. Kritik yang bertujuan untuk memperbaiki keadaan malah sering kali direspons dengan negatif.

Mahasiswa mengkritik bukan karena benci atau tidak peduli. Kritik mereka adalah bentuk kepedulian, sebuah alarm yang mengingatkan jika ada kebijakan yang tidak berjalan dengan baik. Namun, sering kali mereka mendapat stigma negatif, dianggap sebagai pengacau atau anti-pemerintah. Padahal, yang mereka inginkan hanyalah kebijakan yang lebih adil dan benar-benar mendukung rakyat.

Ironisnya, semakin sering kritik mereka tidak didengar dan justru dihujat, banyak mahasiswa mulai merasa lelah. Mereka menjadi apatis, tidak lagi peduli pada perkembangan politik. Banyak yang berpikir, "Biarlah, pemerintah mau melakukan apa saja, terserah." Perasaan lelah ini membuat mereka menarik diri dari dunia politik, memilih untuk tidak lagi terlibat karena merasa suara mereka tidak dihargai.

Menjaga semangat kritis mahasiswa sangatlah penting. Pendidikan bukan hanya soal nilai, tetapi juga bagaimana mahasiswa dapat menerapkan pengetahuan mereka untuk menilai dan memperbaiki keadaan di sekitarnya. Politik mungkin keras, tetapi jika mahasiswa diam saja, siapa yang akan memperjuangkan kepentingan mereka? Kritik dengan cerdas dan menyuarakan pendapat dengan santun adalah bagian dari pembelajaran yang sesungguhnya. Masa depan negeri ini bergantung pada partisipasi aktif mahasiswa yang berani bersuara untuk kebaikan bersama.

Dengan tekad yang tulus, mahasiswa berani menghadapi tantangan dan mengungkapkan suara mereka bukan karena dorongan materi atau agenda tertentu, tetapi semata-mata karena kepedulian mereka terhadap negara ini. Mengkritik bukanlah tanda ketidaksetiaan, melainkan upaya untuk menciptakan perubahan yang lebih baik. Mereka pantas mendapat dukungan dan penghargaan atas keberaniannya untuk bersuara demi kebaikan 

Comments

Hits