Yang Tak Pernah Dipilih
Sejak kecil, ia terbiasa menjadi yang tersisa. Dalam permainan, ia berdiri di barisan terakhir, menunggu seseorang menyebut namanya, tetapi namanya tak kunjung disebut. Bukan karena tak ada yang mengenalnya, tapi karena tak ada yang mengingatnya lebih dulu.
Di rumah, ia tumbuh dalam bayang-bayang. Kakaknya lebih cerdas, adiknya lebih menggemaskan. Dalam percakapan keluarga, suaranya seperti angin lalu—terdengar, tapi tak pernah benar-benar didengarkan.
Di sekolah, ia tak pernah menjadi teman sebangku pertama yang dipilih. Saat guru meminta pembagian kelompok, ia sering berakhir di tim yang tak penuh antusiasme, bukan karena ia buruk, tapi karena ia tak cukup menonjol untuk diinginkan. Ia berjalan di lorong dengan langkah ringan, berharap suatu hari ada yang berlari mendekat, mengatakan, “Aku ingin kamu di timku.”
Di kampus, dalam lingkaran pertemanan, ia hadir, tapi tak pernah jadi pusat. Bukan orang pertama yang diundang dalam obrolan larut malam, bukan yang ditunggu untuk membuat keputusan. Sekadar ada—seperti kursi kosong yang jika ditempati, tidak mengubah dinamika ruangan.
Di tempat kerja, namanya bukan yang pertama terlintas saat ada promosi. Ia bekerja dengan baik, tapi diam. Dan orang-orang lebih suka mereka yang bersuara, yang terlihat, yang percaya diri mengambil tempat.
Selalu ada pertanyaan yang menggantung di dadanya: Apakah aku tidak cukup?
Tapi hari demi hari, ia belajar sesuatu. Bahwa menjadi yang tak pernah dipilih bukan berarti tak memiliki nilai. Bahwa di dunia yang sibuk mengejar perhatian, ada keindahan dalam menjadi latar. Ia mulai menciptakan jalannya sendiri, bukan untuk dipilih, tetapi untuk memilih.
Karena tidak semua orang harus menjadi pilihan. Kadang, yang tak dipilih justru yang paling bebas berjalan ke mana saja.




Comments
Post a Comment