Yang Tak Direncanakan, Tapi Diperjalankan
Mungkin ini bukan kebetulan. Tapi juga bukan karena aku sudah begitu hebat dalam menjaga hati.
Barangkali, ini adalah bentuk lain dari cinta Tuhan yang tak pernah kehabisan cara untuk memanggil pulang.
Perjalanan
ini bukan dimulai dari niat yang kuat, bukan pula dari ibadah yang
sempurna. Tapi dari satu malam biasa yang tak terencana. Malam yang
diam-diam membuka celah bagi cahaya kecil menyusup ke dalam ruang hati
yang sempat redup.
Aku tak pernah menyangka, malam itu bisa menjadi awal dari sebuah perjalanan yang berbeda.
Hari
itu, Selasa. Aku keluar bersama seorang teman. Tak ada yang istimewa
sebenarnya—hanya sekadar temu dan tawa selepas berbuka. Tapi setelahnya,
langkahku terasa melenceng dari rutinitas yang biasanya kulakukan di
malam-malam Ramadan. Ada sedikit rasa bersalah yang muncul diam-diam.
Tapi
justru dari momen sederhana itu, ada sesuatu yang bergerak di dalam
diri. Malam itu, ketika semuanya terasa tenang, aku duduk sendiri dan
mulai membuka kembali hal-hal yang mungkin sudah lama tak kusentuh.
Seolah ada yang mengajak untuk kembali mengingat. Kembali menyimak.
Kembali mendekat.
Dan entah bagaimana, hatiku mulai merasa
dipanggil. Bukan dengan suara yang keras, tapi dengan bisikan yang
halus—yang membuatku ingin lebih peka, lebih hadir, lebih sadar. Sejak
saat itu, hari-hari berikutnya tak lagi terasa sama. Ada yang berubah.
Ada yang tumbuh.
Di situ aku sadar, Allah tidak pernah jauh.
Bahkan ketika aku menjauh, Dia tetap berdiri di tempat yang sama,
menunggu dengan kasih yang tak berubah sedikit pun.
Perjalanan
spiritual bukan soal seberapa sempurna kita beribadah, tapi seberapa
besar kita mau terus kembali. Seberapa tulus kita mau merangkak, meski
pelan. Seberapa lembut kita berserah, meski pernah lalai.
Dan ketika aku merasa tak layak, justru di situlah aku merasa paling dicintai.




Comments
Post a Comment