Ketika Semua Harus Dikejar.
Ada masa dalam hidup di mana segalanya terasa seperti perlombaan. Kita bangun pagi dengan kepala penuh rencana, tapi hati masih setengah terjaga. Hari-hari berjalan cepat, tapi tak selalu terasa sampai. Dan entah sejak kapan, kita mulai merasa harus selalu menuju sesuatu. Seolah diam adalah tanda kalah, dan pelan berarti gagal paham tentang dunia.
Usia terus bertambah, begitu pula harapan-harapan yang datang diam-diam. Dari sekitar, dari dalam diri, dari hal-hal yang tak selalu bisa disebutkan dengan kata. Semuanya seperti suara kecil yang terus berbisik: ayo lebih lagi, ayo cepat, ayo jangan sampai ketinggalan.
Dan di tengah semua keharusan itu, kadang muncul hening. Sebuah jeda yang terasa asing. Kita duduk sejenak, bukan karena ingin, tapi karena tak kuat berdiri. Lalu merasa bersalah karena tak ikut berlari.
Padahal...
Jika kamu merasa lelah dengan segala tuntutan yang datang, itu bukan berarti kamu gagal. Itu berarti kamu sedang memberi ruang bagi diri untuk bertumbuh lebih autentik, lebih sadar, dan lebih bijaksana dalam memilih arah hidup.
Karena tidak semua hal harus dikejar. Tidak semua pencapaian harus dipamerkan. Dan tidak semua pertanyaan harus dijawab hari ini.
Mungkin kamu sedang berjalan lebih pelan. Atau mengambil rute yang jarang dilalui. Tapi itu tidak membuatmu kurang. Itu hanya membuatmu jujur.
Kita tidak sedang berlomba. Kita sedang hidup. Dan hidup, meski sesekali terengah, tetap layak dijalani dengan utuh.




Comments
Post a Comment